By Fera Marleni
Sering ngobrol dengan chatbot? Suka melihat rekomendasi film dari berbagai platform movie online? Atau sekadar menggunakan fitur filter foto di ponselmu? Atau salah satunya? Saya yakin satu dari semua pertanyaan di atas pernah kamu lakukan. Tahukah kamu apa di belakang iti semua? Semua itu adalah hasil kerja si brilliant yang bernama Artificial Intelligence (AI)
​Wow hebat! Itu akan melintas dipikiranmu tentang AI. Tapi sebenarnya AI seperti bayi yang baru lahir. Baby AI lahir dengan otak super yang membuat ia mampu mempelajari apa saja. Mempelajari! Itu kuncinya. Artinya harus diajari terlebih dahulu cara kerja dunia dan penghuninya
​Di sinilah baby AI perlu seorang pengajar, dan kisah persahabatan sejati memulai babaknya. Sahabat karib yang tak terpisahkan itu adalah Machine Learning (ML) yang merupakam proses belajarnya dan AI Trainer yang menjadi guru sekaligus pelatih pribadinya.
​Kita ibaratkan Machine Learning (ML) sebagai seorang siswa jenius. Dia punya kecepatan menghitung super, memori luar biasa, dan bisa melihat pola yang tidak disadari oleh manusia. Namun, ML ini masih lugu, sehingga dia tidak tahu apa pun jika tidak diberi contoh. Disinilah AI Trainer menjalankan fungsinya.
​AI Trainer merupakan personal coach, guru atau pelatih pribadi si siswa jenius.
​Tugas utama AI Trainer sangat manusiawi, yaitu memastikan si jenius belajar hal yang benar. Misalnya:
​Ketika AI harus bisa membedakan foto marmut dan kelinci, maka AI Trainer akan mengambil ribuan foto, lalu dengan sabar dan telaten melabeli setiap foto: "Ini marmut," "Ini kelinci," “Ini bukan keduanya”. Satu demi satu. Benar-benar sabar.
​Bukan hanya melabeli, sang guru, juga menyortir dan membersihkan data. Mereka memastikan siswa ML tidak belajar dari buku pelajaran yang sobek atau kotor. Mereka menjaga kualitas data yang diberikan karena itu kunci utama kecerdasan model ML.
Sebagai siswa jenius, ML belajar sangat cepat, tapi dia juga cepat salah kaprah. Misalnya, jika guru hanya memberinya data gambar marmut Coronet Guinea pig maka si ML bisa saja keliru menganggap marmut lain yang tidak serupa dengan Guinea Pig sebagai “bukan marmut”. Kenapa? Karena ia tidak pernah melihatnya dalam data pelatihan.
​pahamkan betapa sabar dan telatennya seorang AI Trainer. Satu demi satu mereka akan menambahkan data yang lebih beragam, mencari pola diskriminatif (bias), dan "memarahi" si siswa cerdas saat salah. Kurang lebih sang guru akan berkata: "Hei, itu juga marmut! Lihat bentuknya, itu juga ciri-ciri marmut!".
​AI Trainer dan Machine Learning saling melengkapi dan tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Itulah besty!
Tanpa Trainer, ML hanya sekedar algoritma kosong. Dia punya potensi untuk belajar, tapi tidak tahu apa yang harus dipelajari atau dari mana mulai belajar atau apa yang benar yang dipelajari. Hasilnya? Baby AI aan menjadi kecerdasan ngaco, yang mungkin salah mengidentifikasi wajah sesorang atau memberikan respons yang tidak masuk akal untuk sesuatu.
Trainer, punya data dan kemampuan koreksi, tetapi ML-lah yang menggunakan data tersebut dan merumuskan rumusan universal untuk memecahkan masalah. Si siswalah yang mengubah ribuan contoh label yang diberikan guru untuk menjadi satu sistem cerdas yang bisa bekerja dalam hitungan milidetik. Masa depan ada di tangan dua besty ini.
​Beberapa tahun ke depan, kita akan sering mendengar peran AI Trainer. Mengapa? Karena baby AI semakin canggih. Semakin canggih sebuah AI, maka semakin banyak knowledge dan etika yang sudah diajarkan.
​AI yang berbicara santun, bisa membedakan sarkasme, atau membantu membuat keputusan medis yang etis, tidak lepas sentuhan manusiawi seorang AI Trainer.
​Jadi sehebat-hebatnya algoritma dan semutakhir apapun proses Machine Learning, mereka tetap membutuhkan rasa dan hati manusia agar berfungsi dengan baik. Itulah alasan AI Trainer dan Machine Learning menjadi pasangan yang abadi: Besty Forever!
SALAM DIGITAL DIGIPRO
​Sebagai pengusaha travel, Anda pasti mencari efisiensi. Salah satunya adalah menggunakan sistem...
​Dunia travel tahun 2026 bukan lagi soal siapa yang punya armada paling banyak, tapi siapa yang p...
Pernahkah kamu membayangkan sistem informasi di kantormu seperti sebuah rumah besar? Di masa lalu...
Dunia kerja kita sedang mengalami perubahan besar. Jika dulu kita mengenal komputer hanya sebagai...
Bayangkan kamu baru saja membangun sebuah toko yang sangat megah. Pintunya otomatis (cepat terbuk...
​Bayangkan kamu ingin mengirim surat rahasia kepada temanmu. Kamu khawatir jika surat itu d...