logo
By Fera

By Fera Marleni

Manajemen Hak Akses: Siapa Boleh Melakukan Apa di Website Anda?


​Bayangkan kamu dan tim mengelola sebuah hotel besar. Di hotel itu ada banyak pintu: pintu kamar tamu, pintu dapur, pintu gudang uang, hingga pintu ruang mesin.
​Tentu kamu tidak akan memberikan satu kunci yang bisa membuka semua pintu kepada semua orang, bukan? Tamu hanya punya kunci kamar, koki punya kunci dapur, dan pemilik yang punya kunci gudang uang. Di dunia website, inilah yang disebut Manajemen Hak Akses

​1. Kenali Dua Istilah Penting
​Seorang developer harus memahami perbedaan dua konsep ini:
• ​Autentikasi: Menjawab pertanyaan "Siapa kamu?" (Proses login dengan username dan password).
• ​Otorisasi: Menjawab pertanyaan "Setelah masuk, apa saja yang boleh kamu lakukan?" (Penentuan hak akses). 

​2. Gunakan Prinsip "Hak Akses Terendah" (Least Privilege)
​Ini adalah gold rules bagi developer. Berikan hak akses sekecil mungkin yang dibutuhkan seseorang untuk melakukan pekerjaannya.
• ​Contoh: Jika A hanya bertugas menulis artikel (Editor), jangan beri dia akses untuk mengganti password admin atau menghapus plugin. Berikan dia akses hanya ke menu tulisan. 

• ​Manfaatnya: Jika suatu saat akun A diretas, si hacker hanya bisa mengganggu bagian tulisan, tidak bisa merusak seluruh sistem website karena hak aksesnya terbatas.
​3. Pembagian Peran (Role-Based Access Control)
​Daripada mengatur izin satu per satu untuk setiap orang, developer sebaiknya membuat kategori atau "Role" (Peran). Contoh umum di website:
• ​Administrator : Bisa melakukan apa saja.
• ​Editor : Bisa menulis dan mengedit tulisan, tapi tidak bisa mengubah pengaturan website.
• ​Subscriber (Pengunjung): Hanya bisa membaca dan melihat profil sendiri. 

​4. Selalu Cek Izin di "Setiap Pintu"
​Developer pemula sering membuat kesalahan dengan hanya menyembunyikan "tombol hapus" dari pandangan pengunjung. Padahal, hacker yang pintar tetap bisa mencoba masuk lewat "pintu belakang" (link tersembunyi).
• ​Tugas Developer: Di setiap baris kode yang berfungsi menghapus atau mengubah data, sistem harus selalu mengecek kembali: "Apakah orang ini benar-benar punya kunci untuk melakukan ini?" 

​5. Jangan Lupa Fitur "Log Out" Otomatis
​Manajemen hak akses juga termasuk mengatur waktu. Jika seseorang masuk ke area sensitif namun tidak ada aktivitas selama 15 menit, sistem harus otomatis mengunci pintu kembali (Log Out). Ini mencegah orang lain menggunakan komputer yang ditinggalkan dalam keadaan masih login. 

​Kesimpulan
​Manajemen hak akses bukan tentang tidak percaya pada rekan kerja, tapi tentang membatasi risiko. Dengan sistem kunci yang rapi, kamu bisa tenang karena tahu bahwa setiap orang bekerja di area masing-masing tanpa ada risiko merusak bagian yang penting.
(Disadur dari berbagai sumber)


SALAM DIGITAL DIGIPRO

Latest News

Jebakan Subscription: Menghitung Kerugian Tersembunyi Sistem Langganan bagi Agen Travel Skala Menengah

​Sebagai pengusaha travel, Anda pasti mencari efisiensi. Salah satunya adalah menggunakan sistem...

Vulnerability di Balik Kemudahan: Mengapa Enkripsi End-to-End Wajib Ada di Sistem Reservasi Anda

​Dunia travel tahun 2026 bukan lagi soal siapa yang punya armada paling banyak, tapi siapa yang p...

Menjaga "Rumah Digital": Mengenal Keamanan Siber Zero Trust

Pernahkah kamu membayangkan sistem informasi di kantormu seperti sebuah rumah besar? Di masa lalu...

Generative AI: Kawan Baru dalam Otomasi Bisnis dan Seni Menjaga Harmoni Sistem

Dunia kerja kita sedang mengalami perubahan besar. Jika dulu kita mengenal komputer hanya sebagai...

Website Sudah "Glow Up" tapi Tetap Sepi? Ini Penyebabnya!

Bayangkan kamu baru saja membangun sebuah toko yang sangat megah. Pintunya otomatis (cepat terbuk...

Data Enkripsi: Mengubah Rahasia Menjadi "Bahasa Planet"

​Bayangkan kamu ingin mengirim surat rahasia kepada temanmu.  Kamu khawatir jika surat itu d...