By Fera Marleni
AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan, siapapun sekarang bicara tentang ini. Seolah tiap sudut kehidupan sudah didiami AI tanpa permisi dan bertanya. Dari smartphone yang kita pakai sampai mobil tanpa pengemudi, AI ada di balik layar. Satu persatu pekerjaan yang semula dilakukan manusia mulai beralih ke tangan AI demi efiensi dan ketepatan. Hingga akhirnya kita sampai pada pertanyaan, “ AI ini musuh yang akan mengambil alih pekerjaan kita, atau kolaborator baru yang bisa membuat hidup lebih mudah dan maju?”.
​Sebagian orang membayangkan AI ibarat robot jahat di film science fiction yang ingin menguasai dunia. Penggambaran film membuat AI hadir sebagai tokoh antagonis yang mengancam. Padahal, AI sekarang jauh lebih "membumi" dan “manusiawi”. Mungkin ada baiknya kita mengenal dengan benar dulu apa Artifisial Intellegence ini.
Pada dasarnya AI adalah program komputer yang bisa belajar, mengenali pola, dan membuat keputusan. Seperti sebuah kalkulator super canggih yang tidak hanya bisa berhitung, tapi juga bisa menulis, menggambar, bahkan mendiagnosis masalah. Dengan kemampuannya ini AI mampu bekerja secara efektif, efesien, dan akurat. Hal inilah yang memicu kekawatiran tentang kemungkinan AI merebut lapangan kerja manusia.
Memang benar, beberapa pekerjaan yang sifatnya rutin, berulang, dan berbasis data pelan-pelan bisa digantikan oleh AI. Contohnya:
Tapi, bukankah ​ini adalah disrupsi, di mana teknologi mengubah cara kerja dan sudah terjadi sejak dulu. Dulu, mesin cetak menggantikan juru tulis, dan komputer menggantikan mesin tik. Berarti AI juga adalah sebuah distrupsi yang akan selalu ada selama manusia berpikir ya kan? Lalu apakah benar AI adalah musuh yang harus diwaspadai? Apakah benar bahwa AI akan mengambil alih pekerjaan manusia?
​Oke, mari berpikir dari sisi lain. Mari berpikir bahwa AI dengan semua keunggulannya jauh lebih potensial sebagai kolaborator atau mitra kerja daripada musuh. AI adalah alat yang bisa meningkatkan kemampuan manusia secara drastis. Singkatnya, AI menyebabkan:
​Jadi, bagaimana? Apakah AI musuh atau kolaborator?
​Jawabannya kembali ke kita. AI akan menjadi musuh jika kita menolaknya, berdiam diri, dan tidak mau belajar hal baru tapi AI akan menjadi kolaborator terbaik jika kita:
​Kita tidak perlu mencoba bersaing dengan AI dalam kecepatan memproses data. Kita harus belajar bekerja bersama AI untuk mencapai hal-hal yang sebelumnya mustahil. AI bukan akhir dari pekerjaan manusia, tapi awal dari era baru di mana pekerjaan jadi lebih cerdas dan produktif.
SALAM DIGITAL DIGIPRO
​Banyak pemilik UMKM merasa terjebak dalam rutinitas yang seolah tak ada habisnya: mencatat nota...
​Bagi banyak pelaku UMKM, pintu bank seringkali terasa tertutup rapat. Keluhan yang paling sering...
​Dalam menjalankan usaha mikro dan menengah (UMKM), sering kali kita dihadapkan pada situasi yang...
​Dalam dunia usaha mikro dan menengah, kita sering menjumpai fenomena "toko yang ramai, tapi domp...
​Kita sedang berdiri di depan pintu sebuah era baru, di mana sistem informasi tidak lagi sekadar...
​Dalam hiruk-pikuk kemajuan teknologi, kita sering kali lupa bahwa setiap baris kode yang kita ja...